foto di atas adalah foto Ismawati, TKW yang meninggal dunia di Riyadh.

cipanas ohh cipanas
November 23, 2007
Suatu malam, aku berjalan-jalan menggunakan sepeda motor. Sendirian. Tujuanku Cipanas. Sesampainya di daerah tersebut, beberapa pria yang berdiam diri di pinggir jalan menawarkan kamar penginapan. “Kamar A, kamar,” tawar mereka.
Aku kemudian memilih terus berlalu sebelum berbelok ke kanan. Di depan sebuah penginapan, motor kuhentikan. Seorang pria menghampiri. Ia pun kemudian menawarkan kamar untuk menginap. Aku lalu menyetujuinya.
Dibawanya aku menyusuri sebuah gang menuju sebuah penginapan. Sesampainya di sana terjadi tawar menawar harga kamar. Setelah klop, pintu kamar tersebuka. Fasilitasnya cukup lah untuk ukuran penginapan kecil. Ada kasur (springbed) ukuran besar, sebuah tivi tanpa remote, dan kamar mandi plus bak rendam air hangat.
Petugas penginapan (bel boy kl di hotel) lalu berlalu. Namun, sebelum pergi ia sempat berbisik-bisik. “Mau cewe A? Masih ABG. Kalau mau saya bisa antarkan,” tuturnya. Aku hanya menggeleng. Tapi sepertinya ia ragu mengartikan gelengan saya dan kembali menawarkan yang tadi ditawarkannya. Khawatir dia salah mengartikan lagi, kini tawarannya kujawab mantap, “Tidak.”

selangkah lagi ke pengadilan
November 22, 2007Well, proses hukum nyatanya terus berjalan. Saya yang tinggal di Garut hanya bisa melihat proses tersebut. Ke depannya, masih tak bisa dipastikan seperti apa.
Menjelang malam aku keluar ruangan warnet tempat biasa aku mengetik. Bulan hampir purnama. Aku kemudian mengirim pesan singkat. “Terima kasih informasinya Kang.”
foto kiri, adalah foto ketika penyidik KPK menyita sebuah ruko di IBC. Ruko tersebut atas nama istri Bupati Garut dan diduga dibeli dari uang yang dikorupsi oleh Bupati.
foto kanan diambil di Pendopo Garut. Beberapa wartawan tengah mewawancara pengacara Bupati, Abidin SH MH. Sementara itu, istri Bupati memperhatikan jalannya wawancara.

how to get a news?
November 20, 2007Sebelum disajikan ke publik, sebuah berita mengalami berbagai proses. Yang paling awal ketika seorang wartawan, atau reporter ‘mencari’ berita. Sengaja saya memakai tanda kutip karena kadang berita datang dengan sendirinya. Tiba-tiba saja ada kabar masuk ke telepon genggam menyebutkan ada suatu kejadian di daerah tertentu. Dan kita pun tinggal meliputnya.
Bagaimana mencari berita? Itu yang akan saya tulis sekarang. Pada dasarnya berita dapat didapat dengan tiga hal. Pertama, berita dapat diperoleh dengan wawancara. Tinggal mencari narasumber yang kompeten lalu kita menanyakan masalah tersebut, maka itu sudah bisa dijadikan berita. Tapi, usahakan jangan hanya mencantumkan satu narasumber dalam berita. Minimal dua narasumber.
Dan jika berita itu membutuhkan cover both side, mau tidak mau harus dicari narasumber ‘tandingan’ untuk membantah berita tersebut. Contohnya, ketika mewawancara pejabat di kejaksaan tentang kasus korupsi seorang pejabat. Maka si pejabat yang dituding korup harus diminta komentarnya.
The second way adalah menggali data atau fakta. Misalnya saja, ada berkas-berkas yang menyebutkan tentang kekayaan pejabat. Maka itu bisa dipakai menjadi berita. Asal berkas tersebut asli dan ada tandatangan kepala badan atau lembaga yang mengeluarkan berkas tersebut.
Yang ketiga, ini yang paling mudah. Pengamatan langsung. Contohnya, kita melihat sendiri ada bentrokan atau tawuran atau aksi demo yang berakhir ricuh.
Kita bisa menggambarkan kejadian itu, lewat kata-kata tentunya, bagaimana kronologis kejadian tersebut. Ketika massa mulai berkumpul kemudian saling provokasi dan akhirnya bentrok. Lebih bagus ditambah wawancara dengan kubu yang saling bentrok.
Setelah data, fakta, dan keterangan terkumpul, maka bahan-bahan berita sudah lengkap. Tinggal kita sajikan menjadi sebuah tulisan. Bagaimana membuat sebuah tulisan? Itu akan saya bahas nanti.

detik-detik yang mendebarkan
November 20, 2007foto di atas diambil saat Apdesi melakukan aksi dan menyatakan dukungannya kepada Bupati, H Agus Supriadi. Agus waktu itu belum diperiksa KPK dan belum menjadi tahanan KPK.

jurnalistik??
November 19, 2007Setiap orang pasti pernah melihat, mendengar atau membaca berita. Di dunia yang semakin hiruk-pikuk ini, orang semakin mudah mendapatkan berita. Tinggal nongkrong depan tivi atau radio, berita akan datang sendirinya.
Di balik sebuah berita, ada proses panjang yang mengiringinya. Tangan-tangan tak terlihat, meracik berita hingga bisa dinikmati masyarakat. Disitulah, tempat jurnalistik.
Apa sih sebenarnya jurnalistik? Saya tidak akan terlalu text book dalam mendefinisikannya. Pengalaman ketika kuliah, ketika harus berhadapan dengan dosen yang text book aku selalu malas. Karena itu aku tidak akan text book dalam memberikan definisi.
Jurnalistik berasal dari kata jurnal (journal). Aku lupa berasal dari negara mana kata journal berasal. Ada yang menyebut itu juga berasal dari kata acta diurna. Yang artinya kurang lebih catatan harian.
Pada masa kekaisaran di Romawi, acta diurna dipakai untuk membewarakan apa yang telah dilakukan oleh Senat. Secara berkala, acta diurna memuat hasil atau kegiatan Senat Romawi.
Dari situlah asal muasal jurnal. Yang kemudian berkembang menjadi jurnalistik dan istilah-istilah yang ada di dalamnya. Muncul juga kemudian kata jurnalisme yang berarti aliran-aliran atau mahzab dalam dunia jurnalistik. Di Indonesia sempat muncul istilah Jurnalisme Pancasila. Namun, seiring reformasi, mahzab ini ditinggalkan seperti juga Pancasila itu sendiri.
Pada dasarnya, setiap manusia adalah seorang pencari berita. Namun, tak layaknya seperti seorang wartawan atau reporter atau jurnalis mereka tak menyebarkannya melalui media massa. Itu yang membedakan orang kebanyakan dengan praktisi jurnalistik.
Misalnya saja, ketika seorang warga melihat kebakaran di dekat tempat tinggalnya. Ketika mendapat informasi dan segala sesuatu tentang kejadian tersebut itu sudah cukup. Paling ia menyebarkan kepada orang yang bertanya kepadanya.
Beda dengan seorang wartawan. Begitu data terkumpul, ia akan bergegas menuju depan komputer, entah di kantor, di warnet atau di rumahnya. Si pewarta berita itu akan merangkai kata-kata untuk mengabarkan berita kebakaran yang terjadi. Itu berlaku pada semua peristiwa.
Setelah beres, berita itu dikirim ke tangan redaktur atau editor. Redaktur akan mengedit dan merubah berita itu tanpa merubah esensi berita. Setelah selesai, maka tugas lay-outer untuk menempatkannya dalam halaman koran.
Selanjutnya dicetak, dan keesokan harinya masyarakat bisa membaca berita-berita itu. Seperti itulah pada dasarnya dunia jurnalistik. Tapi selalu terulang setiap hari. Liputan, mengetik berita, diedit, ditempatkan dalam halaman, dicetak, dibaca, dan akhirnya dibuang atau dijual.