h1

kisah sendu TKW

November 27, 2007

foto-tkw2.jpg

Seorang teman pernah berujar, “Kalau punya anak (perempuan) nanti jangan sampai jadi TKW!” Bukan tanpa alasan ia berkata seperti itu. TKW atau tenaga kerja wanita memang menawarkan pundi-pundi uang, namun kerap menyisakan cerita duka.
Pekan kemarin, bisa dikatakan adalah sesi liputan TKW. Sayangnya bukan kisah sukses para penyumbang devisa negara yang saya liput. Melainkan kisah sendu mereka dan keluarganya.

Pertama, Rabu malam tanggal 21 November. Seorang teman mengajak aku pergi ke Leles. Ia mendapat kabar dari atasannya di Jakarta jika ada jenazah TKW asal Leles yang meninggal dunia dan diberangkatkan ke rumahnya.
Sekitar pukul 20.30, aku sampai di Kampung Karangtengah, Desa Sukarame, Leles. Kampung itu nampak sepi. Di kampung itulah, Ismawati (20) TKW malang itu lahir dan dibesarkan. Kondisi ekonomi keluarga yang carut-marut membuatnya berniat merantau ke negara orang untuk mencari uang.
15 bulan lalu, akhirnya Ismawati pergi ke Riyadh, satu kota di Arab Saudi. Di sana ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Niat membantu ekonomi keluarga pada awalnya dapat terpenuhi. Ismawati sempat mengirimkan uang Rp 4,3 juta untuk keluarganya.
Namun, kisah sendu sering didengar keluarganya mengenai kehidupan Isma di rantau. Suatu waktu ia pernah menelpon bibinya bagaimana cemburuannya si majikan perempuan.
Beberapa hari sebelum idul fitri, Isma diajak umroh oleh majikannya. Setelah itu, tak ada kabar dari Isma kepada keluarganya. Seorang bibinya yang juga menjadi TKW mencoba mencari keberadaannya. Baru 12 hari setelah lebaran ia mengetahui nasib Isma. Dikabarkan Isma tewas setelah bunuh diri loncat dari lantai 7 beberapa hari sebelum idul fitri. Ini berarti ada jeda cukup panjang antara tewasnya Isma dan kabar tersebut diketahui keluarganya. Pihak keluarga tak percaya jika Isma meninggal karena bunuh diri. Mereka justru menduga Isma meninggal karena dianiaya majikannya.
Toh meski sudah diketahui Isma tewas, prosedur tetap berbelit-belit.Jenazahnya baru bisa sampai ke rumahnya tanggal 21 November. Lebih dari tiga minggu untuk memulangkan jenazahnya. Malam itu juga, jenazah anak pertama pasangan Amir dan Tita itu dimakamkan di satu bukit tak jauh dari rumahnya.

Kisah sendu lainnya kudapati ketika berjalan-jalan ke Cibalong, satu kecamatan di Garut Selatan. Sabtu, 24 November saya dan beberapa teman pergi ke Cibalong untuk liputan. Ternyata di sana kami mendapat informasi ada seorang TKW yang stres.
Namanya Nani Suryani (28), warga Kampung Pojok Lame, Desa Mekarsari. Ia sudah dua kali menjadi TKW di luar negeri. Negara pertama yang dikunjunginya adalah Malaysia. Setelah itu, ia pulang ke Cibalong.
Saat pulang tawaran menjadi TKW kembali datang dari seorang sponsor. Kali ini, ia berangkat ke Singapura. Tapi, hanya 3 bulan ia di sana. Nani tiba-tiba saja muncul di rumah keluarganya di Jakarta dengan kondisi compang-camping, bicaranya tak karuan dan sering melamun.
Sejak itu, kondisi kejiwaannya terganggu. Ibunya, Omay mengaku kesulitan untuk berkomunikasi dengan anaknya itu.

Kisah sedih TKW memang bukan hanya terjadi di Garut. Pekan kemarin, di koran tempatku bekerja tercatat kisah sedih juga terjadi di Kabupaten Bandung, Cianjur dan Sukabumi.
Setiap orang memang ingin hidup berkecukupan. Karenanya mereka pun bekerja mencari uang. Namun, saat semua itu tak dapat dicari di negeri sendiri, mereka pun rela melintasi lautan dan daratan untuk bekerja. Ironisnya lagi, jaminan keamanan TKW masih rendah. Hingga masih saja sering kita mendengar TKW yang tewas atau pulang dalam keadaan sakit.

foto di atas adalah foto Ismawati, TKW yang meninggal dunia di Riyadh.

h1

cipanas ohh cipanas

November 23, 2007

im000361.jpg im000364.jpg im000368.jpgSuatu malam, aku berjalan-jalan menggunakan sepeda motor. Sendirian. Tujuanku Cipanas. Sesampainya di daerah tersebut, beberapa pria yang berdiam diri di pinggir jalan menawarkan kamar penginapan. “Kamar A, kamar,” tawar mereka.
Aku kemudian memilih terus berlalu sebelum berbelok ke kanan. Di depan sebuah penginapan, motor kuhentikan. Seorang pria menghampiri. Ia pun kemudian menawarkan kamar untuk menginap. Aku lalu menyetujuinya.
Dibawanya aku menyusuri sebuah gang menuju sebuah penginapan. Sesampainya di sana terjadi tawar menawar harga kamar. Setelah klop, pintu kamar tersebuka. Fasilitasnya cukup lah untuk ukuran penginapan kecil. Ada kasur (springbed) ukuran besar, sebuah tivi tanpa remote, dan kamar mandi plus bak rendam air hangat.
Petugas penginapan (bel boy kl di hotel) lalu berlalu. Namun, sebelum pergi ia sempat berbisik-bisik. “Mau cewe A? Masih ABG. Kalau mau saya bisa antarkan,” tuturnya. Aku hanya menggeleng. Tapi sepertinya ia ragu mengartikan gelengan saya dan kembali menawarkan yang tadi ditawarkannya. Khawatir dia salah mengartikan lagi, kini tawarannya kujawab mantap, “Tidak.”

Pria yang pernah mengunjungi Cipanas, Garut mungkin sempat mengalami hal serupa. Saya hanya berfikir, apakah jika ada seorang wanita yang datang sendiri ke Cipanas akan mengalami kejadian serupa. Dalam artian apakah dia akan ditawari seorang pria.
Kawasan Cipanas berada di kaki Gunung Guntur. Beberapa bulan belakangan, penduduk yang tinggal di kaki gunung tersebut, termasuk penduduk di Cipanas dibuat gerah. Ini karena keluarnya rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Rekomendasinya tidak main-main. Mereka menyarankan agar kaki Gunung Guntur dikosongkan. Mereka melihat ada ancaman bencana besar di lereng gunung api itu. Lahar dingin atau material gunung dengan jumlah sekitar 50.000 meter kubik bisa saja longsor dan mengubur beberapa pemukiman penduduk. Atau bisa juga banjir bandang terjadi dan menggenangi pemukiman.
Semuanya bermula ketika petugas menemukan bronjong di kaki gunung yang sudah rusak dan tidak berfungsi. Bronjong itu tadinya dibuat untuk menampung lahar dingin. Tapi, seiring waktu, lahar dingin sudah memenuhi bronjong itu. Bahkan, di sebagian tempat bronjong itu tertutup oleh material. Bronjong yang rusak berada di Blok Legok
Jambu. (foto sebelah kiri memuat gambar bronjong yang sudah rusak)

Di bawah Legok Jambu terdapat perkampungan, seperti Cikatel (Ciengang).  Legok Jambu sendiri menyerupai sungai yang kering. Bedanya, di sepanjang aliran itu terdapat batu-batu berukuran sedang sampai besar. Jika hujan turun, dikhawatirkan banjir bandang atau material dapat terbawa air hingga ke perkampungan.
Yang meradang akibat rekomendasi ini adalah warga di Cipanas. Jika memang seperti itu, mereka kehilangan mata pencaharian dari objek wisata dan juga bisnis sampingan seperti si pria yang menawarkan wanita kepadaku saat ke Cipanas.

Suatu ketika, setelah mendengar informasi seperti ini, aku dan beberapa teman melihat kondisi bronjong yang terdapat di Legok Jambu. Menggunakan mobil AVP, aku sedikit membohongi sopir mobil. “Bisa. Mobil bisa sampai ke Legok Jambu,” ujarku ketika dia bertanya apakah mobil bisa masuk ke sana.
Ada jalan memang menuju ke sana. Tapi, mobil yang biasa ke sana adalah mobil truk pengangkut pasir. Jalan ke lokasi pun bisa dikatakan jelek. Tidak diaspal. Alasnya cuma batu dan pasir. Si sopir akhirnya marah-marah. “Katanya jalannya bagus,” protesnya.
Tapi akhirnya kami bisa sampai di Legok Jambu. Teman-teman wartawan tivi langsung mengambil gambar. Aku pun tak ketinggalan dengan mereka. Setelah puas mengambil gambar, aku meminta tolong seorang teman untuk difoto. Klik, dan jadilah fotoku dengan latar belakang material gunung dan lereng gunung yang bagian atasnya tertutup oleh awan tebal.

h1

selangkah lagi ke pengadilan

November 22, 2007

im000151.jpg  

Rabu (21/11) pagi menjelang siang. Aku sedang di kamar mandi lalu terdengar sebuah pesan masuk ke telepon genggamku. “Hari ini berkas bupati akan dilimpahkan dari penyidik ke Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dan saya akan mendampingi Bupati ke KPK. Berita lebih lanjut hubungi saya jam 15.00.” Begitu isi pesan singkat yang kulihat seusai mandi. Pengirimnya, penasehat hukum Bupati Garut.
“Babak baru lagi,” gumamku dalam hati. Ternyata tepat satu hari sebelum masa penahanan Agus Supriadi habis, penyidik KPK melimpahkan berkas dugaan korupsi orang nomor satu di Garut itu ke JPU.
Kini kasus tersebut berada di tangan JPU. Ada tiga orang jaksa yang ditunjuk KPK untuk menangani kasus ini dan kemudian memberikan dakwaan kepada Agus. Tiga jaksa ini mempunyai waktu 14 hari kerja untuk melimpahkan kasus tersebut ke Pengadilan Tipikor.

Menjelang deadline, aku menelpon pengacara Bupati, Abidin SH MH. Dari situ aku tahu jika kasus ini akan terus bergulir. Ia menuturkan, dengan dilimpahkannya berkas ke JPU, maka otomatis masa penahanan Bupati akan diperpanjang selama 14 hari. Dan masih bisa diperpanjang bila jaksa menilai masih membutuhkan waktu untuk melakukan pemeriksaan dan menyusun dakwaan.
Abidin menyebutkan, saksi yang diajukan oleh penyidik KPK jumlahnya 102 orang. Sebuah jumlah yang fantastis. Sedangkan dari pihak pengacara atau penasehat hukum hanya mengajukan saksi sebanyak 5 orang. Ini berarti, nanti di persidangan akan didengar keterangan 107 orang saksi dan juga terdakwa tentunya. Dengan catatan, berkas kasus ini dilimpahkan ke pengadilan. Jika tidak, ya Bupati bebas dari tuduhan korupsi APBD.

Mengenai kemungkinan bebas, KPK dengan tegas membantahnya. Juru Bicara KPK, Johan Budi serta seorang petinggi KPK, Tumpak Hatorangan Panggabean dengan tegas menampik kemungkinan bebas pada saat penyidikan. “Bego namanya kalau sampai bebas,” tegas Tumpak saat dihubungi seorang teman.
Rupanya KPK pun tak ingin jika kasus ini berakhir sia-sia. Penyidikan, pemeriksaan dan juga penyelidikan yang berlangsung cukup lama sepertinya membuat KPK yakin jika bukti-bukti untuk menjerat Agus sudah berada di tangan.

Namun toh pengacara punya pendapat lain. Mereka keukeuh berpendapat kliennya tak bersalah. Apa sebab? Abidin mengacu pada Pasal 55 ayat 1, dan Pasal 57 Kepmen No 29 tahun 2004 tentang penggunaan anggaran. Menurutnya, dalam pasal itu disebutkan jika yang mesti bertanggunjawab dalam penggunaan anggaran adalah pengguna anggaran. Dalam hal ini ya masing-masing dinas.
“Pengguna anggaran kan SKPD (satuan kerja perangkat dinas), bukannya Bupati. Jadi yang bertanggungjawab bukan Bupati. KPK enggak ngerti aturan,” tandasnya.

Well, proses hukum nyatanya terus berjalan. Saya yang tinggal di Garut hanya bisa melihat proses tersebut. Ke depannya, masih tak bisa dipastikan seperti apa.
Menjelang malam aku keluar ruangan warnet tempat biasa aku mengetik. Bulan hampir purnama. Aku kemudian mengirim pesan singkat. “Terima kasih informasinya Kang.”

foto kiri, adalah foto ketika penyidik KPK  menyita sebuah ruko di IBC. Ruko tersebut atas nama istri Bupati Garut dan diduga dibeli dari uang yang dikorupsi oleh Bupati.

foto kanan diambil di Pendopo Garut. Beberapa wartawan tengah mewawancara pengacara Bupati, Abidin SH MH. Sementara itu, istri Bupati memperhatikan jalannya wawancara.

h1

how to get a news?

November 20, 2007

Sebelum disajikan ke publik, sebuah berita mengalami berbagai proses. Yang paling awal ketika seorang wartawan, atau reporter ‘mencari’ berita. Sengaja saya memakai tanda kutip karena kadang berita datang dengan sendirinya. Tiba-tiba saja ada kabar masuk ke telepon genggam menyebutkan ada suatu kejadian di daerah tertentu. Dan kita pun tinggal meliputnya.

Bagaimana mencari berita? Itu yang akan saya tulis sekarang. Pada dasarnya berita dapat didapat dengan tiga hal. Pertama, berita dapat diperoleh dengan wawancara. Tinggal mencari narasumber yang kompeten lalu kita menanyakan masalah tersebut, maka itu sudah bisa dijadikan berita. Tapi, usahakan jangan hanya mencantumkan satu narasumber dalam berita. Minimal dua narasumber.
Dan jika berita itu membutuhkan cover both side, mau tidak mau harus dicari narasumber ‘tandingan’ untuk membantah berita tersebut. Contohnya, ketika mewawancara pejabat di kejaksaan tentang kasus korupsi seorang pejabat. Maka si pejabat yang dituding korup harus diminta komentarnya.

The second way adalah menggali data atau fakta. Misalnya saja, ada berkas-berkas yang menyebutkan tentang kekayaan pejabat. Maka itu bisa dipakai menjadi berita. Asal berkas tersebut asli dan ada tandatangan kepala badan atau lembaga yang mengeluarkan berkas tersebut.

Yang ketiga, ini yang paling mudah. Pengamatan langsung. Contohnya, kita melihat sendiri ada bentrokan atau tawuran atau aksi demo yang berakhir ricuh.
Kita bisa menggambarkan kejadian itu, lewat kata-kata tentunya, bagaimana kronologis kejadian tersebut. Ketika massa mulai berkumpul kemudian saling provokasi dan akhirnya bentrok. Lebih bagus ditambah wawancara dengan kubu yang saling bentrok.

Setelah data, fakta, dan keterangan terkumpul, maka bahan-bahan berita sudah lengkap. Tinggal kita sajikan menjadi sebuah tulisan. Bagaimana membuat sebuah tulisan? Itu akan saya bahas nanti.

h1

detik-detik yang mendebarkan

November 20, 2007

demo-pro-bupati2.jpgDetik-detik yang mendebarkan. Itu mungkin yang sedang terjadi di Garut dalam hari-hari sekarang. Sejak akhir Juli lalu, Bupati Garut, H Agus Supriadi ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tuduhannya mengemplang dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Garut tahun 2004-2007.
Sebelum Agus ditahan, gelombang demonstrasi yang melibatkan ribuan massa terus terjadi. Hampir setiap hari, massa turun ke jalan. Mereka menginginkan agar Agus mundur karena dugaan korupsi. Kawasan seperti Komplek Pemkab di Jalan Pembangunan, dan Pendopo Garut dekat Alun-alun menjadi tempat favorit para aktivis dan juga massa untuk berteriak-teriak meminta Bupati mundur.
Hal tersebut tidak direspon Agus. Ia tidak bergeming dan menyatakan akan tetap menjabat sebagai Bupati Garut. Tuntutan mundur makin kencang ketika DPRD Garut menyatakan mencabut dukungannya terhadap Agus. Mereka mengeluarkan hak angket dan tidak percaya atas kepemimpinan Agus. Disusul kemudian dengan Partai Golkar yang memecatnya dari posisi Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar Garut. Golkar berdalih pemecatan itu karena melihat suara konstituen.

Krisis di Garut semakin memuncak saat Agus dipanggil KPK untuk diperiksa di Jakarta. Kamis (26 Juli) pagi, KPK memeriksa Agus. Setelah menjalani pemeriksaan selama kurang lebih 8,5 jam, orang nomor satu di Garut ini kemudian dijebloskan ke tahanan Polresto Jakarta Selatan.
Setelah itu, KPK turun ke Garut. Mereka melakukan pemeriksaan saksi-saksi. Pejabat teras Garut, seperti Wakil Bupati, H Memo Hermawan, dan Ketua DPRD, H Dedi Suryadi juga ikut diperiksa. Menurut penyidik KPK, AKBP Yudhiawan, Memo dan Dedi akan menjadi saksi kasus ini.
Tak hanya itu, KPK kemudian melakukan penyitaan aset milik Bupati yang diduga didapatkan dari hasil ngemplang dana APBD. Total jendral ada dua rumah yang disita, yaitu yang terletak di Muarasanding, dan di Bandung. Kemudian villa di kawasan Cirengit juga disita. Lalu tiga buah kendaraan roda empat, satu ruko di IBC dan juga mebel yang disimpan di bengkel Hanura, Sukawening.

Tak terasa, kini hampir empat bulan Agus ditahan. Anehnya, belum ada tanda-tanda kasus ini akan dilimpahkan oleh KPK ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Padahal, menurut pengacara Agus, Abidin SH MH sejak penangguhan penahanan terakhir, maka waktu KPK hanya sampai 22 November. Jika sampai tanggal tersebut tidak dilimpahkan maka Agus bebas dari segala tuduhan. Artinya, Agus kembali lagi ke Garut dan menjabat sebagai Bupati hingga akhir jabatan tahun 2008 nanti.
Reaksi bermunculan ketika muncul kemungkinan Agus bebas dan kembali ke Garut. Apakah DPRD yang sudah mencabut dukungan politik mau bekerja kembali dengan Agus? Apakah massa yang dulu turun ke jalan dan berteriak-teriak agar Agus mundur mau dipimpin kembali oleh Agus?
Wakil Ketua DPRD dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Dik Dik Darmika mengatakan, jika mencabut dukungan adalah hal politis. Sedangkan jika memang Agus kembali lagi ke Garut, maka itu hukum yang berbicara. Tapi masih belum pasti apakah memang dia mau bekerjasama dengan Agus atau tidak.
Begitu juga dengan komentar yang dikeluarkan oleh Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Ahab Syihabuddin. Ia mengungkapkan, jika hal tersebut belum dibahas oleh fraksinya. Dan memilih untuk menanti kepastian hukum dari KPK.
Saya menulis tulisan ini Selasa (20 November). Berarti tinggal dua hari lagi masa depan Agus ditentukan. Saya sendiri enggan berandai-andai apakah nantinya Agus akan disidangkan atau kembali ke Garut. Kita lihat saja nanti.

foto di atas diambil saat Apdesi melakukan aksi dan menyatakan dukungannya kepada Bupati, H Agus Supriadi. Agus waktu itu belum diperiksa KPK dan belum menjadi tahanan KPK.

h1

jurnalistik??

November 19, 2007

Setiap orang pasti pernah melihat, mendengar atau membaca berita. Di dunia yang semakin hiruk-pikuk ini, orang semakin mudah mendapatkan berita. Tinggal nongkrong depan tivi atau radio, berita akan datang sendirinya.
Di balik sebuah berita, ada proses panjang yang mengiringinya. Tangan-tangan tak terlihat, meracik berita hingga bisa dinikmati masyarakat. Disitulah, tempat jurnalistik.
Apa sih sebenarnya jurnalistik? Saya tidak akan terlalu text book dalam mendefinisikannya. Pengalaman ketika kuliah, ketika harus berhadapan dengan dosen yang text book aku selalu malas. Karena itu aku tidak akan text book dalam memberikan definisi.

Jurnalistik berasal dari kata jurnal (journal). Aku lupa berasal dari negara mana kata journal berasal. Ada yang menyebut itu juga berasal dari kata acta diurna. Yang artinya kurang lebih catatan harian.
Pada masa kekaisaran di Romawi, acta diurna dipakai untuk membewarakan apa yang telah dilakukan oleh Senat. Secara berkala, acta diurna memuat hasil atau kegiatan Senat Romawi.
Dari situlah asal muasal jurnal. Yang kemudian berkembang menjadi jurnalistik dan istilah-istilah yang ada di dalamnya. Muncul juga kemudian kata jurnalisme yang berarti aliran-aliran atau mahzab dalam dunia jurnalistik. Di Indonesia sempat muncul istilah Jurnalisme Pancasila. Namun, seiring reformasi, mahzab ini ditinggalkan seperti juga Pancasila itu sendiri.

Pada dasarnya, setiap manusia adalah seorang pencari berita. Namun, tak layaknya seperti seorang wartawan atau reporter atau jurnalis mereka tak menyebarkannya melalui media massa. Itu yang membedakan orang kebanyakan dengan praktisi jurnalistik.
Misalnya saja, ketika seorang warga melihat kebakaran di dekat tempat tinggalnya. Ketika mendapat informasi dan segala sesuatu tentang kejadian tersebut itu sudah cukup. Paling ia menyebarkan kepada orang yang bertanya kepadanya.
Beda dengan seorang wartawan. Begitu data terkumpul, ia akan bergegas menuju depan komputer, entah di kantor, di warnet atau di rumahnya. Si pewarta berita itu akan merangkai kata-kata untuk mengabarkan berita kebakaran yang terjadi. Itu berlaku pada semua peristiwa.
Setelah beres, berita itu dikirim ke tangan redaktur atau editor. Redaktur akan mengedit dan merubah berita itu tanpa merubah esensi berita. Setelah selesai, maka tugas lay-outer untuk menempatkannya dalam halaman koran.
Selanjutnya dicetak, dan keesokan harinya masyarakat bisa membaca berita-berita itu. Seperti itulah pada dasarnya dunia jurnalistik. Tapi selalu terulang setiap hari. Liputan, mengetik berita, diedit, ditempatkan dalam halaman, dicetak, dibaca, dan akhirnya dibuang atau dijual.

h1

menyapa pagi di sayang heulang

November 19, 2007

Di satu pagi, aku lupa tanggal berapa, atau bulan apa. Yang pasti tahun 2007. Saat itu aku berada di sebuah penginapan di kawasan Pantai Sayang Heulang, Pameungpeuk, Garut. Sengaja aku menginap di situ. Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) akan uji coba meluncurkan roket buatannya. Dan aku akan meliputnya.

Indonesia memang sudah bisa membuat roket. Meski baru roket yang daya jelajahnya dekat dan menengah. Roket buatan LAPAN memang belum digunakan untuk militer. Mereka baru mengembangkannya untuk ilmu pengetahuan dan memantau cuaca.
Nah sebelum menuju Starspro (Stasiun Peluncuran Roket) di Cilautereun, Cikelet. Aku sempat berfoto-foto ria di Pantai Sayang Heulang. Cepret..cepret aku pun difoto oleh seorang teman. Naik ke atas karang atau berdiri di bibir pantai. Yang penting aku difoto. Tapi, sayang cuaca pagi itu tidak cerah. Mendung dan awan tipis menggelayut di atas langit Cikelet. Matahari pun malu-malu mengintip dari balik awan.
Setelah difoto bergegas aku pergi ke Starspro Cilautereun. Sayang acara peluncuran roket kali ini agak molor beberapa jam. Cuaca buruk menghambat kedatangan beberapa tamu undangan. Pada saat menunggu tamu undangan, sebuah informasi masuk. Helikopter yang ditumpangi Mantan Menkeu, Mar’ie Muhammad mendarat darurat di Malangbong. Kantor sempat menanyakan bagaimana bila aku ke Malangbong? Hmmmmm Cikelet-Malangbong. Cape dehhhhh.
Dan ini foto-foto saat aku berada di Pantai Sayang Heulang. Kapan aku ke sana lagi? Tapi kalau aku ke sana, aku ingin mengajak seorang wanita..