
jurnalistik??
November 19, 2007Setiap orang pasti pernah melihat, mendengar atau membaca berita. Di dunia yang semakin hiruk-pikuk ini, orang semakin mudah mendapatkan berita. Tinggal nongkrong depan tivi atau radio, berita akan datang sendirinya.
Di balik sebuah berita, ada proses panjang yang mengiringinya. Tangan-tangan tak terlihat, meracik berita hingga bisa dinikmati masyarakat. Disitulah, tempat jurnalistik.
Apa sih sebenarnya jurnalistik? Saya tidak akan terlalu text book dalam mendefinisikannya. Pengalaman ketika kuliah, ketika harus berhadapan dengan dosen yang text book aku selalu malas. Karena itu aku tidak akan text book dalam memberikan definisi.
Jurnalistik berasal dari kata jurnal (journal). Aku lupa berasal dari negara mana kata journal berasal. Ada yang menyebut itu juga berasal dari kata acta diurna. Yang artinya kurang lebih catatan harian.
Pada masa kekaisaran di Romawi, acta diurna dipakai untuk membewarakan apa yang telah dilakukan oleh Senat. Secara berkala, acta diurna memuat hasil atau kegiatan Senat Romawi.
Dari situlah asal muasal jurnal. Yang kemudian berkembang menjadi jurnalistik dan istilah-istilah yang ada di dalamnya. Muncul juga kemudian kata jurnalisme yang berarti aliran-aliran atau mahzab dalam dunia jurnalistik. Di Indonesia sempat muncul istilah Jurnalisme Pancasila. Namun, seiring reformasi, mahzab ini ditinggalkan seperti juga Pancasila itu sendiri.
Pada dasarnya, setiap manusia adalah seorang pencari berita. Namun, tak layaknya seperti seorang wartawan atau reporter atau jurnalis mereka tak menyebarkannya melalui media massa. Itu yang membedakan orang kebanyakan dengan praktisi jurnalistik.
Misalnya saja, ketika seorang warga melihat kebakaran di dekat tempat tinggalnya. Ketika mendapat informasi dan segala sesuatu tentang kejadian tersebut itu sudah cukup. Paling ia menyebarkan kepada orang yang bertanya kepadanya.
Beda dengan seorang wartawan. Begitu data terkumpul, ia akan bergegas menuju depan komputer, entah di kantor, di warnet atau di rumahnya. Si pewarta berita itu akan merangkai kata-kata untuk mengabarkan berita kebakaran yang terjadi. Itu berlaku pada semua peristiwa.
Setelah beres, berita itu dikirim ke tangan redaktur atau editor. Redaktur akan mengedit dan merubah berita itu tanpa merubah esensi berita. Setelah selesai, maka tugas lay-outer untuk menempatkannya dalam halaman koran.
Selanjutnya dicetak, dan keesokan harinya masyarakat bisa membaca berita-berita itu. Seperti itulah pada dasarnya dunia jurnalistik. Tapi selalu terulang setiap hari. Liputan, mengetik berita, diedit, ditempatkan dalam halaman, dicetak, dibaca, dan akhirnya dibuang atau dijual.