November 23, 2007
Suatu malam, aku berjalan-jalan menggunakan sepeda motor. Sendirian. Tujuanku Cipanas. Sesampainya di daerah tersebut, beberapa pria yang berdiam diri di pinggir jalan menawarkan kamar penginapan. “Kamar A, kamar,” tawar mereka.
Aku kemudian memilih terus berlalu sebelum berbelok ke kanan. Di depan sebuah penginapan, motor kuhentikan. Seorang pria menghampiri. Ia pun kemudian menawarkan kamar untuk menginap. Aku lalu menyetujuinya.
Dibawanya aku menyusuri sebuah gang menuju sebuah penginapan. Sesampainya di sana terjadi tawar menawar harga kamar. Setelah klop, pintu kamar tersebuka. Fasilitasnya cukup lah untuk ukuran penginapan kecil. Ada kasur (springbed) ukuran besar, sebuah tivi tanpa remote, dan kamar mandi plus bak rendam air hangat.
Petugas penginapan (bel boy kl di hotel) lalu berlalu. Namun, sebelum pergi ia sempat berbisik-bisik. “Mau cewe A? Masih ABG. Kalau mau saya bisa antarkan,” tuturnya. Aku hanya menggeleng. Tapi sepertinya ia ragu mengartikan gelengan saya dan kembali menawarkan yang tadi ditawarkannya. Khawatir dia salah mengartikan lagi, kini tawarannya kujawab mantap, “Tidak.”
Pria yang pernah mengunjungi Cipanas, Garut mungkin sempat mengalami hal serupa. Saya hanya berfikir, apakah jika ada seorang wanita yang datang sendiri ke Cipanas akan mengalami kejadian serupa. Dalam artian apakah dia akan ditawari seorang pria.
Kawasan Cipanas berada di kaki Gunung Guntur. Beberapa bulan belakangan, penduduk yang tinggal di kaki gunung tersebut, termasuk penduduk di Cipanas dibuat gerah. Ini karena keluarnya rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Rekomendasinya tidak main-main. Mereka menyarankan agar kaki Gunung Guntur dikosongkan. Mereka melihat ada ancaman bencana besar di lereng gunung api itu. Lahar dingin atau material gunung dengan jumlah sekitar 50.000 meter kubik bisa saja longsor dan mengubur beberapa pemukiman penduduk. Atau bisa juga banjir bandang terjadi dan menggenangi pemukiman.
Semuanya bermula ketika petugas menemukan bronjong di kaki gunung yang sudah rusak dan tidak berfungsi. Bronjong itu tadinya dibuat untuk menampung lahar dingin. Tapi, seiring waktu, lahar dingin sudah memenuhi bronjong itu. Bahkan, di sebagian tempat bronjong itu tertutup oleh material. Bronjong yang rusak berada di Blok Legok
Jambu. (foto sebelah kiri memuat gambar bronjong yang sudah rusak)
Di bawah Legok Jambu terdapat perkampungan, seperti Cikatel (Ciengang). Legok Jambu sendiri menyerupai sungai yang kering. Bedanya, di sepanjang aliran itu terdapat batu-batu berukuran sedang sampai besar. Jika hujan turun, dikhawatirkan banjir bandang atau material dapat terbawa air hingga ke perkampungan.
Yang meradang akibat rekomendasi ini adalah warga di Cipanas. Jika memang seperti itu, mereka kehilangan mata pencaharian dari objek wisata dan juga bisnis sampingan seperti si pria yang menawarkan wanita kepadaku saat ke Cipanas.
Suatu ketika, setelah mendengar informasi seperti ini, aku dan beberapa teman melihat kondisi bronjong yang terdapat di Legok Jambu. Menggunakan mobil AVP, aku sedikit membohongi sopir mobil. “Bisa. Mobil bisa sampai ke Legok Jambu,” ujarku ketika dia bertanya apakah mobil bisa masuk ke sana.
Ada jalan memang menuju ke sana. Tapi, mobil yang biasa ke sana adalah mobil truk pengangkut pasir. Jalan ke lokasi pun bisa dikatakan jelek. Tidak diaspal. Alasnya cuma batu dan pasir. Si sopir akhirnya marah-marah. “Katanya jalannya bagus,” protesnya.
Tapi akhirnya kami bisa sampai di Legok Jambu. Teman-teman wartawan tivi langsung mengambil gambar. Aku pun tak ketinggalan dengan mereka. Setelah puas mengambil gambar, aku meminta tolong seorang teman untuk difoto. Klik, dan jadilah fotoku dengan latar belakang material gunung dan lereng gunung yang bagian atasnya tertutup oleh awan tebal.
Ditulis dalam Pengalaman Nos |
Tinggalkan sebuah Komentar
Sekarang cipanas ga seperti yang dulu…
hehe dr ngebahas jablai di cipanas nyambung nya ke vulkano,..wakakaka,..
*emang cipanas yang dulu gimana kang supono? soalnya nos baru di garut, baru dua taunan lah.
*yah gitulah wid, biar rada rame ngebahas dulu sisi lain cipanas, trus nyambung deh ke gunung guntur
)
bagus de .. klo ada yg nawarin cewek jangan mau, kali aja itu cewe, cewe jadi²an wakwkawkwakwkakwak.
) ade kapan mo ajak kk jalan² :-w
tumben de suara foto nya klik ga cepret =)) takut sakit ya
tjah kakak mah.. waktu itu ade lagi eling
) kl lagi ga eling bisa jadi ceritanya lain..
kakak kapan ke garutnya?? ntar ma ade diajak jalan². ke cipanas mau kak?
kapan ya kk ke garut
… mau atuh ke cipanas … yuuuuuuuuuukkkkk
tapi… kl ade ke cipanasnya ma kk, ntar ade engga ada yg nawarin cewe lagi, hiks.. hiks.. :-p
hikhik emang cipanas baheula beda jeung kiwari,baheula nu estuning endah tur tingtrim munguh betah jeng tumaninah,jauh ti ubrut,angang ti bayawak,kiwari ngan ukur ngarana ,nyana tur nyata kiwarimah loba kunti nos wakakakakakkakakakkakakakka
alah-alah eta kang epay meni nyebat ubrut.. hehehe. justru nu kitu daya tarikna ayeuna mah kang.. heran
makanya klo ke cipanas jgn sendirian biar gak disangka nyari cewe.. hehehe.
tp skr mah udh bnyk penginapan yg konsepnya baru, kayak resort2 gitu deh. kampung sumber alam, danau dariza, sabda alam (ada waterboom), banyu tirta. cuma yah lebih mahal aja, hehehe.
cipanas seharusnya lebih bisa dikembangkan lagi agar bisa dapat dijadikan objek wisata yang aman dan nyaman