Nopember 27, 2007

Seorang teman pernah berujar, “Kalau punya anak (perempuan) nanti jangan sampai jadi TKW!” Bukan tanpa alasan ia berkata seperti itu. TKW atau tenaga kerja wanita memang menawarkan pundi-pundi uang, namun kerap menyisakan cerita duka.
Pekan kemarin, bisa dikatakan adalah sesi liputan TKW. Sayangnya bukan kisah sukses para penyumbang devisa negara yang saya liput. Melainkan kisah sendu mereka dan keluarganya.
Pertama, Rabu malam tanggal 21 November. Seorang teman mengajak aku pergi ke Leles. Ia mendapat kabar dari atasannya di Jakarta jika ada jenazah TKW asal Leles yang meninggal dunia dan diberangkatkan ke rumahnya.
Sekitar pukul 20.30, aku sampai di Kampung Karangtengah, Desa Sukarame, Leles. Kampung itu nampak sepi. Di kampung itulah, Ismawati (20) TKW malang itu lahir dan dibesarkan. Kondisi ekonomi keluarga yang carut-marut membuatnya berniat merantau ke negara orang untuk mencari uang.
15 bulan lalu, akhirnya Ismawati pergi ke Riyadh, satu kota di Arab Saudi. Di sana ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Niat membantu ekonomi keluarga pada awalnya dapat terpenuhi. Ismawati sempat mengirimkan uang Rp 4,3 juta untuk keluarganya.
Namun, kisah sendu sering didengar keluarganya mengenai kehidupan Isma di rantau. Suatu waktu ia pernah menelpon bibinya bagaimana cemburuannya si majikan perempuan.
Beberapa hari sebelum idul fitri, Isma diajak umroh oleh majikannya. Setelah itu, tak ada kabar dari Isma kepada keluarganya. Seorang bibinya yang juga menjadi TKW mencoba mencari keberadaannya. Baru 12 hari setelah lebaran ia mengetahui nasib Isma. Dikabarkan Isma tewas setelah bunuh diri loncat dari lantai 7 beberapa hari sebelum idul fitri. Ini berarti ada jeda cukup panjang antara tewasnya Isma dan kabar tersebut diketahui keluarganya. Pihak keluarga tak percaya jika Isma meninggal karena bunuh diri. Mereka justru menduga Isma meninggal karena dianiaya majikannya.
Toh meski sudah diketahui Isma tewas, prosedur tetap berbelit-belit.Jenazahnya baru bisa sampai ke rumahnya tanggal 21 November. Lebih dari tiga minggu untuk memulangkan jenazahnya. Malam itu juga, jenazah anak pertama pasangan Amir dan Tita itu dimakamkan di satu bukit tak jauh dari rumahnya.
Kisah sendu lainnya kudapati ketika berjalan-jalan ke Cibalong, satu kecamatan di Garut Selatan. Sabtu, 24 November saya dan beberapa teman pergi ke Cibalong untuk liputan. Ternyata di sana kami mendapat informasi ada seorang TKW yang stres.
Namanya Nani Suryani (28), warga Kampung Pojok Lame, Desa Mekarsari. Ia sudah dua kali menjadi TKW di luar negeri. Negara pertama yang dikunjunginya adalah Malaysia. Setelah itu, ia pulang ke Cibalong.
Saat pulang tawaran menjadi TKW kembali datang dari seorang sponsor. Kali ini, ia berangkat ke Singapura. Tapi, hanya 3 bulan ia di sana. Nani tiba-tiba saja muncul di rumah keluarganya di Jakarta dengan kondisi compang-camping, bicaranya tak karuan dan sering melamun.
Sejak itu, kondisi kejiwaannya terganggu. Ibunya, Omay mengaku kesulitan untuk berkomunikasi dengan anaknya itu.
Kisah sedih TKW memang bukan hanya terjadi di Garut. Pekan kemarin, di koran tempatku bekerja tercatat kisah sedih juga terjadi di Kabupaten Bandung, Cianjur dan Sukabumi.
Setiap orang memang ingin hidup berkecukupan. Karenanya mereka pun bekerja mencari uang. Namun, saat semua itu tak dapat dicari di negeri sendiri, mereka pun rela melintasi lautan dan daratan untuk bekerja. Ironisnya lagi, jaminan keamanan TKW masih rendah. Hingga masih saja sering kita mendengar TKW yang tewas atau pulang dalam keadaan sakit.
foto di atas adalah foto Ismawati, TKW yang meninggal dunia di Riyadh.
Ditulis dalam Berita dan Opiniku |
Tinggalkan sebuah Komentar