Arsip untuk ‘Pengalaman Nos’ Kategori

h1

cipanas ohh cipanas

November 23, 2007

im000361.jpg im000364.jpg im000368.jpgSuatu malam, aku berjalan-jalan menggunakan sepeda motor. Sendirian. Tujuanku Cipanas. Sesampainya di daerah tersebut, beberapa pria yang berdiam diri di pinggir jalan menawarkan kamar penginapan. “Kamar A, kamar,” tawar mereka.
Aku kemudian memilih terus berlalu sebelum berbelok ke kanan. Di depan sebuah penginapan, motor kuhentikan. Seorang pria menghampiri. Ia pun kemudian menawarkan kamar untuk menginap. Aku lalu menyetujuinya.
Dibawanya aku menyusuri sebuah gang menuju sebuah penginapan. Sesampainya di sana terjadi tawar menawar harga kamar. Setelah klop, pintu kamar tersebuka. Fasilitasnya cukup lah untuk ukuran penginapan kecil. Ada kasur (springbed) ukuran besar, sebuah tivi tanpa remote, dan kamar mandi plus bak rendam air hangat.
Petugas penginapan (bel boy kl di hotel) lalu berlalu. Namun, sebelum pergi ia sempat berbisik-bisik. “Mau cewe A? Masih ABG. Kalau mau saya bisa antarkan,” tuturnya. Aku hanya menggeleng. Tapi sepertinya ia ragu mengartikan gelengan saya dan kembali menawarkan yang tadi ditawarkannya. Khawatir dia salah mengartikan lagi, kini tawarannya kujawab mantap, “Tidak.”

Pria yang pernah mengunjungi Cipanas, Garut mungkin sempat mengalami hal serupa. Saya hanya berfikir, apakah jika ada seorang wanita yang datang sendiri ke Cipanas akan mengalami kejadian serupa. Dalam artian apakah dia akan ditawari seorang pria.
Kawasan Cipanas berada di kaki Gunung Guntur. Beberapa bulan belakangan, penduduk yang tinggal di kaki gunung tersebut, termasuk penduduk di Cipanas dibuat gerah. Ini karena keluarnya rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Rekomendasinya tidak main-main. Mereka menyarankan agar kaki Gunung Guntur dikosongkan. Mereka melihat ada ancaman bencana besar di lereng gunung api itu. Lahar dingin atau material gunung dengan jumlah sekitar 50.000 meter kubik bisa saja longsor dan mengubur beberapa pemukiman penduduk. Atau bisa juga banjir bandang terjadi dan menggenangi pemukiman.
Semuanya bermula ketika petugas menemukan bronjong di kaki gunung yang sudah rusak dan tidak berfungsi. Bronjong itu tadinya dibuat untuk menampung lahar dingin. Tapi, seiring waktu, lahar dingin sudah memenuhi bronjong itu. Bahkan, di sebagian tempat bronjong itu tertutup oleh material. Bronjong yang rusak berada di Blok Legok
Jambu. (foto sebelah kiri memuat gambar bronjong yang sudah rusak)

Di bawah Legok Jambu terdapat perkampungan, seperti Cikatel (Ciengang).  Legok Jambu sendiri menyerupai sungai yang kering. Bedanya, di sepanjang aliran itu terdapat batu-batu berukuran sedang sampai besar. Jika hujan turun, dikhawatirkan banjir bandang atau material dapat terbawa air hingga ke perkampungan.
Yang meradang akibat rekomendasi ini adalah warga di Cipanas. Jika memang seperti itu, mereka kehilangan mata pencaharian dari objek wisata dan juga bisnis sampingan seperti si pria yang menawarkan wanita kepadaku saat ke Cipanas.

Suatu ketika, setelah mendengar informasi seperti ini, aku dan beberapa teman melihat kondisi bronjong yang terdapat di Legok Jambu. Menggunakan mobil AVP, aku sedikit membohongi sopir mobil. “Bisa. Mobil bisa sampai ke Legok Jambu,” ujarku ketika dia bertanya apakah mobil bisa masuk ke sana.
Ada jalan memang menuju ke sana. Tapi, mobil yang biasa ke sana adalah mobil truk pengangkut pasir. Jalan ke lokasi pun bisa dikatakan jelek. Tidak diaspal. Alasnya cuma batu dan pasir. Si sopir akhirnya marah-marah. “Katanya jalannya bagus,” protesnya.
Tapi akhirnya kami bisa sampai di Legok Jambu. Teman-teman wartawan tivi langsung mengambil gambar. Aku pun tak ketinggalan dengan mereka. Setelah puas mengambil gambar, aku meminta tolong seorang teman untuk difoto. Klik, dan jadilah fotoku dengan latar belakang material gunung dan lereng gunung yang bagian atasnya tertutup oleh awan tebal.

h1

menyapa pagi di sayang heulang

November 19, 2007

Di satu pagi, aku lupa tanggal berapa, atau bulan apa. Yang pasti tahun 2007. Saat itu aku berada di sebuah penginapan di kawasan Pantai Sayang Heulang, Pameungpeuk, Garut. Sengaja aku menginap di situ. Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) akan uji coba meluncurkan roket buatannya. Dan aku akan meliputnya.

Indonesia memang sudah bisa membuat roket. Meski baru roket yang daya jelajahnya dekat dan menengah. Roket buatan LAPAN memang belum digunakan untuk militer. Mereka baru mengembangkannya untuk ilmu pengetahuan dan memantau cuaca.
Nah sebelum menuju Starspro (Stasiun Peluncuran Roket) di Cilautereun, Cikelet. Aku sempat berfoto-foto ria di Pantai Sayang Heulang. Cepret..cepret aku pun difoto oleh seorang teman. Naik ke atas karang atau berdiri di bibir pantai. Yang penting aku difoto. Tapi, sayang cuaca pagi itu tidak cerah. Mendung dan awan tipis menggelayut di atas langit Cikelet. Matahari pun malu-malu mengintip dari balik awan.
Setelah difoto bergegas aku pergi ke Starspro Cilautereun. Sayang acara peluncuran roket kali ini agak molor beberapa jam. Cuaca buruk menghambat kedatangan beberapa tamu undangan. Pada saat menunggu tamu undangan, sebuah informasi masuk. Helikopter yang ditumpangi Mantan Menkeu, Mar’ie Muhammad mendarat darurat di Malangbong. Kantor sempat menanyakan bagaimana bila aku ke Malangbong? Hmmmmm Cikelet-Malangbong. Cape dehhhhh.
Dan ini foto-foto saat aku berada di Pantai Sayang Heulang. Kapan aku ke sana lagi? Tapi kalau aku ke sana, aku ingin mengajak seorang wanita..