Sebelum disajikan ke publik, sebuah berita mengalami berbagai proses. Yang paling awal ketika seorang wartawan, atau reporter ‘mencari’ berita. Sengaja saya memakai tanda kutip karena kadang berita datang dengan sendirinya. Tiba-tiba saja ada kabar masuk ke telepon genggam menyebutkan ada suatu kejadian di daerah tertentu. Dan kita pun tinggal meliputnya.
Bagaimana mencari berita? Itu yang akan saya tulis sekarang. Pada dasarnya berita dapat didapat dengan tiga hal. Pertama, berita dapat diperoleh dengan wawancara. Tinggal mencari narasumber yang kompeten lalu kita menanyakan masalah tersebut, maka itu sudah bisa dijadikan berita. Tapi, usahakan jangan hanya mencantumkan satu narasumber dalam berita. Minimal dua narasumber.
Dan jika berita itu membutuhkan cover both side, mau tidak mau harus dicari narasumber ‘tandingan’ untuk membantah berita tersebut. Contohnya, ketika mewawancara pejabat di kejaksaan tentang kasus korupsi seorang pejabat. Maka si pejabat yang dituding korup harus diminta komentarnya.
The second way adalah menggali data atau fakta. Misalnya saja, ada berkas-berkas yang menyebutkan tentang kekayaan pejabat. Maka itu bisa dipakai menjadi berita. Asal berkas tersebut asli dan ada tandatangan kepala badan atau lembaga yang mengeluarkan berkas tersebut.
Yang ketiga, ini yang paling mudah. Pengamatan langsung. Contohnya, kita melihat sendiri ada bentrokan atau tawuran atau aksi demo yang berakhir ricuh.
Kita bisa menggambarkan kejadian itu, lewat kata-kata tentunya, bagaimana kronologis kejadian tersebut. Ketika massa mulai berkumpul kemudian saling provokasi dan akhirnya bentrok. Lebih bagus ditambah wawancara dengan kubu yang saling bentrok.
Setelah data, fakta, dan keterangan terkumpul, maka bahan-bahan berita sudah lengkap. Tinggal kita sajikan menjadi sebuah tulisan. Bagaimana membuat sebuah tulisan? Itu akan saya bahas nanti.

